Judul Cerpen Pejuang Waktu
Cerpen Karangan: Dina Indri Astuti
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos Editing: 25 September 2016

 

Aku menenteng sepatu hitam kusam milikku, kemeja putih dengan celana abu-abu khas anak SMA masih ku kenakan.Aku tersenyum, berjalan dengan kaki telanjang di jalan setapak menuju rumahku yang ku huni selama 17 tahun itu.

“Assalamualaikum.” Ujarku.

“Wa’alaikumsalam. Loh le, kok sampun mantuk? Tumben.” Ujar Ibu menghampiriku.

“Inggih, Bu. Wonten rapat.”Jawabku setelah bersalaman dengan beliau.

“Oalah. Iyo wis, cepet makan.” Perintah Ibu seraya kembali menyiram tanamanya.

Akupun bergegas ke kamarku, melepas seragam sekolah dan menggantinya dengan kaos abu-abu polos. Aku segera berlari ke dapur untuk makan masakan Ibu. Memang tidak mewah. Hanya sebuah sayur asem dan nasi putih. Tapi menurutku, apapun yang dimasak Ibu adalah kenikmatan mahal yang tidak tertandingi. Setelah selesai makan, aku menghampiri Ibu dan Tya, adikku yang berada di teras rumah. Senyum Ibu mengembang mendapati aku berdiri tepat disampingnya.

“Anterin ke rumahnya Bu Umi ya, le.” Ujar Ibu dengan senyum terbaiknya.

“Inggih, Bu. Sekalian Hadi pamit. Mau bantuin Koko Ahong dagang, Hadi udah janji.”Ucapku lirih.Ibu menggeleng pelan.

“Mboten usah, le. Sampean opo ora kesel to, le? Habis bantu Ibu langsung bantu Koko Ahong, ndak capek?” Tanya Ibu. Aku jadi tidak enak.

“Pangampuntene, Bu. Hadi mung pengen bantu Ibu. Biaya sekolah Hadi kan ndak sedikit.”

“Le, manut wae kalih Ibu. Ndak usah mikir biaya le, Ayah sudah kerja keras, Ibu juga sudah bantu sebisa Ibu. Insya’ Allah cukup, daripada kamu mikir biaya, mikir saja pelajaran sekolahmu, le. Kamu pinter, lulus dengan baik, dapat kerja, Ibu sudah senang sekali.”

“Pangampuntene, Bu. Hadi ndak mikir sampai situ.” Ucapku menyesal.

“Wis, sak iki ambil kotak yang di kresek merah.Ibu taruh di meja ruang tamu, itu jumlahnya 16 ya le.Sesuai pesanannya Bu Umi.”Perintah Ibu.

“Inggih, Bu.” Ujarku.

Aku lalu masuk ke dalam rumah dan mengambil 2 kresek merah besar di atas mejayang berisikan kue buatan Ibu.Ibu sangat mahir membuat kue, rasanya juga enak.Tak salah, jika warga sekitar rumah kami selalu meminta Ibu membuat kueuntuk acara yang mereka buat. Setelah itu aku mengantar pesanan ke rumah Bu Umi.

Aku menghentikan langkahku di depan rumah bercat kuning dengan pagar hitam rendah. Baru saja ingin mengucapkan salam, Indri, anggota dari dewan disiplin di sekolahku muncul.

“Prihadi Pandu?” tanyanya seraya menunjuk wajahku dengan telunjuknya.Aku mengangguk.

“Kelas 10-H?” tanyanyalagi.Aku mengangguk.“Aku ndak nyangka, Bu Wiwin itu Ibu kamu.”

“Aku ndak nyangka, Bu Umi itu Ibu kamu.” Ujarku mengulang kalimatnya.

“Itu kalimatku.”Ujarnya seraya melototkan matanya.

Indri ini satu sekolah denganku.Dia mengenalku karena aku sering sekali datang terlambat, lebih tepatnya hampir tiap hari. Tentu saja aku memiliki alasan untuk itu.

“Ini, aku cuma nganter. Bilang Bu Umi, jumlahnya 16 sesuai dengan pesanan.”Ujarku ketus. Aku sebal dengan gadis ini, ia selalu menghukumku dengan cara yang sadis seminggu belakangan ini.

“Oh.” Gumamnya.

“Oh?...Bilang makasih atau apa gitu? Kamu sudah diantarkan tidak berterima kasih sama sekali.” Ujarku kesal.Ia memutar bola matanya, mungkin ia jengah.

“Matur suwun, Prihadi Pandu.” Ujarnya senyumnya mengembang.Gadis sepertinya bisa tersenyum?

“Kalau gitu aku pulang dulu. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Keesokan harinya.

Seperti biasa, aku berangkat lebih awal dari anak sekolah biasanya, aku harus mampir ke tukang koran. Sebelum berangkat sekolah aku bekerja sampingan menjadi pengeloper koran, tentu saja tanpa sepengetahuan Ibu. Aku mengerjakannya diam-diam.Setelah mengambil koran dari Mas Anam. Aku segera bergegas membagikan koran-koran di komplek perumahan yang tidak jauh dari SMA-ku.

“Prihadi Pandu!” teriak seseorang.Suaranya takasing. Aku kembali berjalan melempar koran dari satu rumah ke rumah yang lain. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

“Heh, dipanggil kok ndak denger?” tanyanya nafasnya tak beraturan dengan posisi masih berada di sepeda.

“Kamu ngapain?” tanyaku balik tanpa minat menjawab pertanyaannya.Ia hanya berkedip.

“Mau bantuin kamu ngeloper koran. Ayok!” Ucapnya tiba-tiba bersemangat.Aku menggeleng pelan, mengambil alih sepedanya. Tanpa menunggu aba-aba, ia duduk di boncengan belakang, seraya membagikan koran seperti yang aku lakukan tiap paginya.

“Maaf.” Kata itu tiba-tiba terucap darinya.“Kalau tau kamu melakukan ini, aku nggak bakal ngehukum kamu yang berat-berat.” Ucapnya.

“Nggak apa-apa, Indri.” Ucapku padanya. “Aku melakukan ini karena ini pilihanku sendiri, aku harus bantu Ayah dan Ibu, ya tak seberapa memang. Tapi, setidaknya aku sudah membantu mereka, meski tanpa sepengetahuan mereka.”

“Kamu cukup berkorban, meski tak sebesar dan sebanyak mereka. Kamu hebat.” Ucapnya lirih.

“Aku hanya pejuang yang tidak ingin diketahui perjuangannya. Pejuang yang berjuang demi hari yang ia lalui dan selanjutnya. Aku nggak berpikir untuk mendapat pujian, aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya membantu orang tuaku melalui semua ini, terutama bagian ekonomi. Mengingat ekonomi kami yang serba pas-pasan.” Ujarku jujur.

“Aku kira hidup kamu nggak sampai buat kamu seperti ini, aku kira kamu hanya anak pintar yang suka seenaknya dengan datang terlambat.” Ada nada menyesal di kalimat terakhirnya.

“Begitulah hidup, Ndri. Apa yang tampak baik-baik saja, terkadang jauh lebih terluka daripada kelihatannya.” Ujarku.

Indri terkekeh.Aku segera menambah laju sepeda miliknya.Aku tidak ingin kami terlambat. Khusus untukku, aku tidak ingin terlambat untuk ke sekian kalinya.